Tag Archives: doraemon

Dari Komik ke Meja Makan

Standar

Waktu kecil, saya suka banget baca komik. Saya ga punya genre khusus buat baca komik, jadi kalo ada komik nganggur ya pasti saya baca. Biasanya komik bacaan saya sih yang ada lucu-lucunya. Misalnya Crayon Shinchan, Doraemon, Dororonpa, Kobo Chan, Time Limit dan sebagainya. Ada juga komik yang agak-agak cabul kaya Nube Guru Ahli Roh. Komik yang ceritanya di negeri antah berantah kaya Dragon Ball atau Dragon Pigmario. Atau komik serius yang butuh mikir kaya Detektif Conan (dari saya kelas 5 SD sampai sekarang ga tamat-tamat), Detektif Kindaichi dan Q.E.D.

Dulu saya ga mampu beli komik. Minta orang tua juga ga tega, wong harga komik termasuk mahal. Mending buat makan. Saya biasanya minjem komik ke teman atau tetangga, tapi lebih sering nyewa. Dulu, di dekat rumah saya ada persewaan komik, namanya KK book rental. Filosofinya bagus lho, karena nama KK merupakan singkatan dari Kejujuran awal dari Kepercayaan. Namanya nyewa komik emang harus jujur. Dikembalikan dalam keadaan baik dan tepat waktu. 

Harha sewa komik di KK terbilang murah kalo dibandingin tempat persewaan lainnya. Di dekat rumah saya ada tempat persewaan komik lain, namanya Tintin. Biaya pendaftaran 1000 rupiah dan untuk sewa dikenai 350 rupiah per komik selama 2 hari (ini sekitar tahun 97-99 lah yaa). Nah di KK ga dipungut biaya pendaftaran. Harga sewa komik juga lebih murah daripada Tintin, tapi saya lupa sih berapaan hehee.. Apalagi sewa 5 komik bonus 1 komik. Menyenangkan!

Sebetulnya ga butuh waktu lama buat melahap 6 komik sampai habis. Kalo pas nganggur-nganggur, biasanya ga sampe sehari komik-komik sewaan udah selesai saya baca. Karena sering sewa komik yang lucu-lucu, saya sering ketawa sendiri. Apalagi kebiasaan baca komik masih lanjut terus sampai saya kuliah. Ibu saya dulu sering bilang, “wis gede ok wacanane koyo ngono.” (sudah besar kok bacaannya kaya gitu). Tapi sejak tinggal di Jakarta, saya udah ga pernah baca komik karena ga nemu tempat persewaan komik kaya di Jogja. Seringnya baca whatsapp. Padahal baca whatsapp juga sia-sia, wong WA dari saya ga dibales, cuma centang biru doang. Huft. Aku jadi sedih.

Komik-komik yang saya baca biasanya berasal dari Jepang. Kalaupun ada komik yang ga dari Jepang, palingan Paman Gober. Membaca komik cukup menambah pengetahuan yang saya tentang Jepang. Misalnya, ayah Nobita dan ayah Kobo Chan berangkat dan pulang kerja naik kereta. Dari situ saya tahu kalau kereta adalah moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat Jepang. Agak sulit saya bayangkan waktu kecil, karena di Jogja ga ada sistem transportasi kereta dalam kota. Dari komik Doraemon saya juga tahu kalau setiap tahun di Jepang ada festival Koinobori. Saya juga jadi tahu kalau ada festival musim panas, di mana warga Jepang menggunakan Yukata, sejenis kimono yang dipakai khusus untuk musim panas. Sementara saat musim semi, melihat bunga sakura jadi salah satu aktivitas wajib di Jepang. Budaya memberi kado pada saat Natal juga bisa saya ketahui dari komik. Padahal, mayoritas penduduk Jepang menganut keyakinan Shinto dan Buddha. 

Dari komik, sedikit-sedikit saya tahu beberapa makanan khas Jepang. Seperti dorayaki makanan kesukaan Doraemon. Dulu saya pikir, dorayaki adalah makanan yang tercipta dari khayalan Fujiko F Fujio. Ternyata, dorayaki memang makanan tradisional Jepang yang sudah ada sejak awal tahun 1900. Dorayaki yang dulu terasa jauh bagi saya, sekarang dengan mudah didapat. Tinggal mampir ke Indomaret, dorayaki seharga 4500 rupiah sudah bisa saya bawa pulang. Walaupun dorayaki yang aslinya berisi kacang merah, dimodofikasi dengan isi pasta coklat karena disesuaikan dengan lidah Indonesia.

Dorayaki produk Sari Roti

Nggak cuma dorayaki, makanan-makanan yang dulu cuma saya baca di komik, sekarang sudah bisa tersedia di meja makan. Dan ga perlu jauh-jauh ke Jepang, cukup datang ke restoran Jepang yang mudah ditemui di Jakarta. Misalnya, di komik Time Limit, tokoh Nina Onoda sangat menyukai takoyaki. Ada juga cerita tentang okonomiyaki yang ternyata mirip takoyaki, tapi berbeda bentuk. Takoyaki berbentuk bola-bola, sementara okonomiyaki berbetuk bulat pipih.

Nina Onoda makan okonomiyaki dan takoyaki

Okonomiyaki di salah satu resto Jepang di Jakarta

Di komik Doraemon, ada cerita saat mulut Giant bau bawang setelah makan gyoza. Saya lupa cerita tersebut ada di komik nomor berapa. Tapi saya ingat betul, di komik Doraemon versi Indonesia, ada keterangan kecil tentang gyoza. Kurang lebih keterangannya kaya gini: gyoza: sejenis siomay yang terbuat dari bawang putih. Waktu saya kecil, yang kebayang ya siomay ala mas-mas yang keliling kampung naik sepeda. Tapi sekarang, saya bisa ikut merasakan gyoza yang dimakan Giant.

Penampakan gyoza di meja makan

Saya tidak tahu apakah dulu pemerintah Jepang sengaja mengekspor komik-komiknya keluar negeri untuk memperkenalkan budaya negeri matahari terbit. Tapi yang jelas, Jepang berhasil menyebarkan informasi tentang kebiasaan, budaya dan makanannya. Menurut saya, dulu restoran khas Jepang ga mudah dicari. Apalagi di Jogja, tempat saya dibesarkan. Kalaupun ada, restoran Jepang biasanya mahal dan ga mungkin terjagkau di kantong saya. Waktu remaja dulu saya pernah sih makan di restoran Jepang, namanya Tenpura Hana. Restonya bagus dan kayanya mahal (soalnya saya cuma ditraktir, jadi gatau harganya hahaa..). Sekarang, restoran khas Jepang di Jogja banyak ditemui. Begitu juga di Jakarta, tempat tinggal saya sekarang. Di satu mall aja saya menemukan lebih dari 10 restoran khas Jepang dengan berbagai bentuk.

Beberapa restoran khas Jepang di Central Park Mall dan Neo Soho

Di komik-komik yang saya baca, makanan khas Jepang biasanya ditampilkan dalam bentuk sederhana. Misalnya warung ramen, kalau di komik bentuknya biasa aja, mungkin mirip warung mie ayam. Sementara di sini, restoran khas Jepang dibuka di pusat perbelanjaan dengan tampilan mewah. Kehebatan Jepang dalam memperkenalkan kebudayaannya patut diacungi jempol. Buat yang pengen merasakan kebudayaan Jepang yang biasanya cuma bisa dilihat di komik, bisa mendatangi restoran khas Jepang maupun festival-festival budaya yang sering diselenggarakan di Indonesia. Tapi buat yang merasa hal tersebut ga cukup, bisa datang ke Jepang untuk merasakan pengalaman langsung, ga cuma lewat komik. Otomatis, pendapatan Jepang dari pariwisata akan bertambah. Apalagi, sekarang bisa ke Jepang tanpa visa asalkan pakai paspor elektronik.

Saya sih baru sebatas baca komik, makan di restoran khas Jepang dan datang ke festival budaya Jepang. Waktu kuliah, saya pernah coba-coba daftar beasiswa Monbukagakusho untuk kuliah di Jepang. Tujuannya ya pengen belajar sekaligus melihat langsung kehidupan di Jepang. Tapi sayang. Gagal. (Ga tau diri sih, wong beasiswanya buat jurusan teknik). 

Andreas di acara Jak-Japan Matsuri

Tapi gapapa, suatu hari nanti pasti saya bisa liburan ke Jepang. Konon, bulan Maret-April adalah waktu terbaik buat yang pengen liat bunga sakura bermekaran. Buat yang sibuk, pemalas kaya saya atau ga mau ribet, tinggal klik Paket Tour Jepang. Bisa juga klik HAnavi untuk paket eksklusif.

Seperti kata Rangga di AADC 2, traveling itu tentang menambah pengalaman, bukan sekedar bersenang-senang. Kurang lebih sih gitu. 😅

HIS Travel Indonesia

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition