belajar dari ketidaksempurnaan

Standar

Gara-gara malam ini saya susah tidur, saya jadi nguthek-nguthek henpon terus. Iseng-iseng saya buka facebook yang entah sudah berapa lama tidak saya perhatikan lagi. Ada notifikasi dari Karlina, salah seorang teman lama. Lama sekali bahkan, karena saya sudah kenal sejak jaman sekolah minggu. Yah sekitar kelas 4 SD lah kalau saya gak salah ingat.

Dari ngeklik akun facebook Karlina, saya menemukan teman lama lainnya, Ajeng. Dari Ajeng, merembet ke teman lama kami yang lain, Saksomo Ardi. Dari akun facebook, saya beralih ke jejaring sosial lainnya yang sekarang lebih ngetren, twitter. Ternyata teman-teman lama saya pun aktif di jejaring sosial burung biru ini. Dari situlah akhirnya saya stalking teman-teman lama yang sudah saya kenal dari usia belia.

Dari stalking teman-teman lama inilah, saya melihat bahwa mereka masih aktif melakukan pelayanan. Masih sama seperti masa kanak-kanak hingga remaja dulu, saat kami masih aktif dalam berbagai kegiatan gereja. Paduan suara, vocal group, drama natal, pengurus remaja, kunjungan ke rumah-rumah dan sebagainya. Namun ada satu hal yang saya lihat berbeda pada pelayanan mereka. Jika dahulu di gereja kami, GKI Wongsodirjan, pelayanan lebih menitikberatkan pada “kegiatan gerejawi”, kali ini teman-teman saya lebih terpanggil untuk melakukan pelayanan terhadap sesama.

Pikiran saya melayang pada masa kecil, saat saya masih berstatus sebagai anak sekolah minggu. (Di gereja, anak2 biasanya tidak ikut ibadah orang dewasa, tapi ada kegiatan sendiri yang namanya sekolah minggu). Dulu saat sekolah minggu, saya tidak mengerti apa makna menjadi orang Kristen. Saya hanya tau bahwa setiap minggu saya harus ke gereja, yang artinya saya gak bisa nonton kartun-kartun favorit pada hari minggu. Saya hanya tau tentang kisah-kisah alkitab tanpa menyadari bahwa setiap kejadian di alkitab merupakan campur tangan Tuhan.

Beranjak remaja, saya semakin aktif dalam “pelayanan gerejawi”. Saya ikut berbagai kegiatan, sampai-sampai hampir setiap hari saya ada di gereja (di luar sekolah tentunya). Bersama teman-teman lama yang saya sebutkan di atas tadi, saya terlibat dalam keperngurusan remaja gereja. Waktu itu saya jadi sie rohani, yang tugas utamanya mengatur jalannya ibadah setiap minggu. Cari pengkotbah, menentukan liturgos (pemimpin pujian) dan petugas-petugas lainnya, mengawasi persiapan ibadah serta membuat program-program tahunan. Hampir setiap hari sibuk lah pokoknya..

Waktu menjalani berbagai macam kesibukan di gereja, saya merasa tidak ada yang salah. Saya melakukan ini itu untuk gereja dengan judul “pelayanan”. Namun saya baru menyadari, bahwa apa yang saya lakukan belumlah cukup. Saya tidak mengenal siapa yang saya layani, yaitu yang empunya gereja, Tuhan saya. Saya baru menyadarinya saat saya tidak lagi terlibat dalam pelayanan remaja di gereja, tepatnya saat saya duduk di bangku kuliah.

Waktu kuliah dulu, saya sudah tidak aktif lagi di gereja, karena pelayanan saya beralih ke PMK (persekutuan mahasiswa kristen) di kampus Atma Jaya (padahal saya gak kuliah di situ). Dari PMK lah saya belajar tentang lahir baru, mengenal Tuhan, mendengar suara Tuhan dan mengasihi jiwa-jiwa. Saat itulah paradigma tentang “pelayanan” berubah. Pelayanan bukan sekedar sibuk dengan berbagai kegiatan di gereja, melainkan mengasihi dan membawa jiwa-jiwa yang haus akan jamahan Tuhan.

Pelayanan yang pernah saya lakukan di gereja tidak salah, hanya saja belum sempurna karena saya tidak tahu siapa yang saya layani. Namun dari yang tidak sempurna lah saya belajar dan terus berusaha untuk menjadi sempurna di mataNya. Saya memang tidak memahami jalan Tuhan. Mungkin saya memang harus melewati berbagai ketidaksempurnaan sehingga akhirnya saya bisa terus belajar dan mengerti apa arti kesempurnaan. Bukan hanya dalam pelayanan, tetapi juga seluruh aspek kehidupan. Keluarga, pekerjaan, sahabat, masa depan dan semua yang Tuhan percayakan dalam hidup saya.

Saat ini pun saya sedang dihadapkan dengan sesuatu yang baru. Saya tidak mengerti apa yang saya hadapi. Kenapa harus saya alami. Tapi satu hal yang saya percaya, Tuhan akan selalu memberi kekuatan di tengah hujan badai sekalipun. PenyertaanNya sempurna hingga nanti saya memperoleh mahkota yang gilang gemilang. Walaupun sempat galau dan bikin kepala migren, saya percaya bahwa jalan yang saya lewati sesuai dengan kehendakNya. Amin. 🙂

jalanMu tak terselami

oleh setiap hati kami

namun satu hal yang kupercaya

ada rencanaMu yang indah

tiada terduga kasihMu

heran dan besar bagiku

arti kehadiranMu selalu

nyata di dalam hidupku

penyertaanmu sempurna

rancanganMu bagiku penuh damai

aman dan tinggal sejahtera

walau di tengah badai

inginku selalu bersama

rasakan keindahan

arti kehadiranMu, Tuhan..

Ini adalah salah satu lagu kesukaan saya, judulnya Arti KehadiranMU ciptaan Jonathan Prawira. Kalau dilihat, setiap lirik merupakan kepanjangan dari nama Jonathan Prawira. Keren yak.. ^^

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

2 responses »

  1. Duh tuh lagu… dulu setiap hari dinyanyiin di kantor.
    sekarang orgnya sdh pindah. tapi tuh lagu keren bgt..
    walau kita lain agama tp tuhan satu dan kesempunaan hanyalah milik dia….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s