penting gak sih?

Standar

Setiap kali pulang ke Jogja, saya selalu menyempatkan diri untuk hura-hura dengan para sahabat. Sekedar makan bersama, berkumpul di basecamp atau bernyanyi sepuasnya di sebuah bilik karaoke. Kami menyebutnya sebagai katarsis, yaitu meluapkan segala bentuk emosi yang selama ini kami pendam.

Kepulangan saya ke Jogja biasanya gak terlalu lama. Makanya saya harus memanfaatkan waktu sempit sebaik-baiknya untuk dapat memuaskan keluarga, teman-teman dan diri saya sendiri tentunya. Mengunjungi keluarga besar, jelas sudah jadi agenda wajib. Bisa-bisa diomelin mamak kalo gak mampir-mampir ke rumah sodara.

Sudah jadi kebiasaan saya untuk gak woro-woro di social media tentang kepulangan saya ke Jogja. Males aja kalo terus banyak yang ngajakin pergi atau sekedar ketemuan. *padahal gak ada yg ngajakin juga sik* Saya hanya memberi kabar kepulangan saya hanya pada sahabat terdekat saya supaya bisa meluangkan waktu untuk hura-hura.

Prioritas saya jelas melepas rindu dengan teman-teman dekat yang memang sudah tersebar di seluruh pelosok nusantara. Tapi ada kalanya teman dekat saya tidak bisa datang karena ada keperluan lain, padahal kami sudah lama gak ketemu dan jauh-jauh datang dari daerah yang berbeda. Sebagai sahabat lama yang dulu sangat akrab, tentu saya kecewa. Tapi apakah saya berhak untuk marah?

Saya sadar betul bahwa prioritas tiap orang berbeda-beda. Mungkin saya menjadikan sahabat saya sebagai salah satu prioritas untuk bertemu. Namun apakah saya cukup penting untuk dijadikan prioritas oleh sahabat saya? Belum tentu. Sahabat saya masih punya keluarga, pacar dan kepeentingan lain yang mungkin jauh lebih berarti daripada sekedar berkumpul dengan sahabat lama.

Salah satu esensi menjadi orang dewasa adalah kita dapat melihat segala sesuatu lebih terbuka. Gak melulu memandang keinginan dan kepentingan kita sendiri, tapi juga kepentingan orang lain. Dan kita juga bisa memilih untuk tetap tidak terima saat sahabat kita tidak menjadikan kita sebagai prioritas, atau kita bersikap legowo dan maklum akan kepentingan lain.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film yang banyak dihina-hina karena jalan ceritanya yang “agak porno”. Dilihat dari posternya, film Ted memang nampak seperti film anak-anak karena tokoh utamanya adalah boneka beruang. Tapi film ini dikategorikan dalam film dewasa karena agak menyerempet ke arah pornografi juga.

Film Ted bercerita tentang seorang anak bernama John yang tidak punya teman dan berharap boneka beruangnya bisa hidup sehingga mereka bisa berteman selamanya. Berkat Pak Tarno dengan bim-salabim-nya, boneka beruang bernama Ted itu bisa hidup dan bicara layaknya manusia. Hanya saja ukuran badannya tetap sebesar boneka beruang. *padahal Ted ini makan dan minum jugak lho* *bingung*

Nah hingga dewasa, si John tetap bersahabat bahkan tinggal bersama Ted. Diceritakan bahwa John memiliki pacar bernama Lori yang ingin agar John bisa melepas Ted. Di sinilah kedewasaan John diuji. Dia harus memilih antara Lori dan masa depan, atau memilih Ted yang artinya dia akan selalu terjebak dalam sifat kanak-kanaknya.

Meskipun film ini banyak dicaci karena unsur pornonya, saya justru merasa bahwa banyak yang dapat kita petik dari film ini. Film Ted mengajarkan kita untuk dapat memilih skala prioritas. Mana yang kita anggap lebih penting? Masa depan atau masa lalu? Bersenang-senang dengan teman lama atau menjalin hubungan dengan seseorang yang kita anggap spesial? Karir atau pertemanan?

Saat ini saya masih mudah berhubungan, bertemu, hura-hura atau meminta bantuan pada sahabat saya. Namun jika suatu hari nanti saya tidak lagi menjadi prioritasnya, ya saya harus siap. Marah-marah pun tidak ada gunanya. Justru malah keliatan seperti anak kecil yang gak bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.

Seseorang mungkin begitu penting bagi kita. Namun apakah kita cukup penting bagi dia?

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s