bermimpi lagi dan lagi

Standar

Film yang mengangkat tema dunia tarian selalu menarik hati saya. Libur terakhir kemarin pun (ya, saat orang lain libur sampai tanggal 23, saya sudah masuk tanggal 21) saya manfaatkan untuk menonton film Step Up 4 Revolution. Hentakan musik dan gerakan tubuh yang seirama dengan musik mewarnai hampir seluruh bagian film.

Sama seperti film bertema tarian lainnya, Step Up 4 Revolution ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang ingin menunjukkan pada dunia bahwa seseorang dapat meraih kesuksesan melalui tarian. Pada awalnya tujuan mereka sederhana saja, yaitu ingin memenangkan kontes dari Youtube. Namun tujuan mereka berubah haluan saat sebuah perusahaan pengembang hendak menghancurkan lingkungan tempat tinggal mereka.

Film bertema tarian yang saya saksikan sebelumnya adalah Streetdance 2.  Saya menyaksikan kedua film ini dalam format 3D. Bukannya nggaya, tapi karena kebetulan bioskopnya lagi promo, jadi harganya murah. Hehehe.. ;p

Film Streetdance 2 juga bercerita tentang Ash, seorang penari yang ingin memenangkan kontes penari jalanan terbaik se-Eropa. Mengumpulkan penari dari berbagai belahan Eropa dan mempelajari tarian latin menjadi cara jitu Ash untuk memenangkan kontes.

Kedua film berlatar dunia tarian ini memiliki satu pesan yang sama: follow you passion. Para tokoh dalam film sering menemukan kenyataan bahwa menjadikan tari sebagai profesi tidaklah mudah.

“berapa banyak perbandingan orang yang sukses sebagai penari? 1 banding 1000? 1 banding 10000?”

Begitulah kata Bill Anderson, salah satu tokoh dalam film Step Up 4 saat mengingatkan putrinya, Emily Anderson yang bersikeras ingin berkarir sebagai seorang penari. Kenyataannya memang begitulah adanya. Seseorang yang sukses dari menari tidaklah sebanyak orang yang sukses dari bekerja kantoran.

Bekerja sesuai passion tentu menjadi dambaan bagi banyak orang (yang tau apa passionnya). Namun memang harus disadari, bekerja sesuai passion tidak menjamin kehidupan akan dilimpahi kemakmuran. Kalo kata iklan salah satu provider, hidup itu bebas untuk memilih (asal bisa membuat orang di sekitar pun senang).

Kita bebas memilih untuk bekerja sesuai passion tapi kurang makmur, atau bekerja tidak sesuai passion tapi bisa jadi kaya secara materi. Sebebas-bebasnya memilih, tentu kita harus mempertimbangkan setiap konsekuensinya. Bagi saya, orang tua menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan ke mana arah hidup saya.

Saya pernah menjalani pekerjaan yang tidak sesuai impian saya dengan gaji yang jauh dari makmur (kasihan banget yak). Tapi saya bertahan selama setahun dengan pertimbangan tidak ingin lagi menyulitkan orang tua yang sudah membiayai saya sejak kecil hingga lulus kuliah. Saya harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, meskipun artinya saya harus makan ati setiap hari.

Dalam kedua film di atas, para tokoh seolah begitu mudah menjalani hidup sesuai passion. Yah karena pertimbangan durasi, perjuangan para tokoh untuk meraih mimipi pun akhirnya tidak sia-sia dan menjadi kenyataan.

Ash dan kawan-kawan dalam film Streetdance 2 akhirnya memeproleh kemenangan pada kontes penari jalanan se-Eropa. Sementara sekelompok penari dalam film Step Up 4 akhirnya sukses menghalangi perusahaan pengembang untuk menghancurkan lingkungan tempat tinggal mereka, plus mendapat kontrak dari salah satu perusahaan sepatu terkemuka di dunia.

Tidak pernah berhenti berjuang menjadi kunci bagi para tokoh untuk akhirnya meraih impian mereka. Perjuangan mereka berujung pada kesuksesan dan membawa mereka pada kemakmuran.

Pada kenyataannya, berjuang dalam hidup tidaklah semudah dalam film. Mungkin perlu bertahun-tahun bagi orang-orang yang akhirnya sukses dari mengikuti kata hatinya. Bahkan seringkali saya berpikir, apakah memperjuangkan keinginan harus dilakukan terus menerus? Ataukah ada saatnya kita harus berhenti memperjuangkan keinginan kita dan melihat kemungkinan lain yang dapat membawa kita pada kesuksesan? Dan kapan kah kita harus berhenti berjuang? Lalu apa yang harus dilakukan jika kita sudah meraih impian kita?

Saat ini saya sudah bekerja sebagai reporter di Trans 7. Menjadi seorang reporter memang impian saya sejak kecil. Saya sendiri tidak mengerti kenapa saya tidak pernah bercita-cita menjadi dokter, pilot atau astronot seperti normalnya anak-anak saat ditanya tentang cita-cita. Lalu apa yang harus saya lakukan saat impian saya sudah tercapai?

Bermimpi lagi. Memiliki cita-cita baru. Saat ini saya sudah bekerja sesuai mimpi saya dulu dan sekarang saya memiliki cita-cita baru. Cita-cita yang menjadi alasan saya bangun setiap hari. Yang membuat saya bersemangat menjalani hidup (kecuali pada saat galau). :p

Sampai saatnya tiba, saya hanya bisa menjalani hidup sambil bermimpi dan berusaha, hingga akhirnya saya berhasil meraih impian atau harus berhenti berjuang. Lalu apa mimpi baru saya? Mau tauk aja. Kepo deh! :p

3 responses »

  1. Kkaa maap sebellumnya , Saya ingin seperti kkaa jdie orang suksess tp saya gag yakin bakalan seperti kkaa .. klo nanti aku suksess pasti emmakku disana bahagia .. senengnya ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s