liburan sambil katarsis

Standar

Dalam kehidupan, pasti ada titik jenuh dimana kita merasa ingin lari dari rutinitas dan melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Dalam ilmu psikologi, cara seseorang untuk memperoleh kelegaan jiwa dengan meluapkan setiap emosi disebut katarsis. Saya mengenal istilah katarsis dari seorang teman lulusan psikologi, yang akhirnya kata tersebut sering kami gunakan pada saat kami ingin meluapkan emosi.

Meluapkan emosi bisa dilakukan dengan cara negatif atau positif. Pengrusakan, tindak kekerasan bahkan pembunuhan bisa jadi merupakan wujud peluapan emosi. Tentu saja saya dan teman-teman tidak melakukan tindakan senekat itu. Bisa-bisa masuk TV cuma karena pengen meluapkan emosi secara negatif. Eh padahal saya udah sering sih masuk tipi. Hahahaaa.. *nggaya*

Waktu berkumpul bersama para sahabat pun menjadi saat yang sangat berharga. Pada saat ada waktu berkumpul, saya selalu menyempatkan diri untuk mengungkapkan emosi jiwa melalu beberapa lagu. Ya, lagu. Kami sering menjadikan bilik karaoke sebagai tempat untuk menyalurkan energi negatif kami yang penuh dengan kejenuhan. Dengan para sahabat, saya bisa meluapkan apa saja melalui lagu apa pun. Mau lagu mendayu-ndayu, lagu 90an yang penuh dengan kalimat menye-menye hingga campur sari yang paling enak dinyanyikan sambil joget.

Saya biasa melakukan katarsis di Jogja, di mana sahabat-sahabat saya tinggal. Namun sejak april lalu, salah seorang sahabat saya meninggalkan kota pelajar untuk merasakan bagaimana sulitnya mencari segenggam berlian di ibukota. Lokasi katarsis yang semula sering dilakukan di Jogja pun ikut pindah ke ibukota.

 

Image

Dua minggu yang lalu, saya dan teman-teman pergi ke salah satu lokasi wisata terkenal di Jakarta Utara, sebut saja Dufan. Kami sengaja memilih Dufan untuk bersenang-senang karena sepanjang bulan ramadhan ini, tiket masuk Dufan diskon 50 persen dengan membawa flyer diskon. Diskon tambahan 10 persen juga diberikan bagi pelancong yang menggunakan kartu BCA dan BNI. Namanya juga anak rantau, segala diskon harus dimanfaatkan secara maksimal supaya hemat bersahaja.

Berbagai wahana di Dunia Fantasi kami coba untuk menyalurkan energi negatif kami. Mulai dari wahana sederhana seperti Bianglala yang hanya berputar-putar dari atas ke bawah, wahana ekstrim yang memicu adrenalin, hingga permainan yang nampaknya biasa namun membuat seluruh tubuh sakit dan mual-mual, sebut saja Pontang-pontang.

Image

Teriakan, makian, tawa bahagia dan canda mewarnai setiap langkah kami di Dunia Fantasi. Itulah wujud luapan emosi kami terhadap penatnya rutinitas hidup. Lelahnya jiwa kami akan “kehidupan nyata” membuat kami sangat menikmati setiap detik di dalam “dunia fantasi”. Waktu mengantri pun kami habiskan dengan saling bercerita, bercanda dan bergosip. *yang terakhir lebih banyak sih* :p

Meluapkan emosi melalui berbagai wahana ternyata membuat otak kami berpikir yang tidak-tidak. Misalnya saja ketika bermain wahana pontang-pontang, kami berpikir bahwa dalam kehidupan sudah pontang panting bekerja, eh di tempat wisata masih harus mengalami pontang-pontang. Permainan ini sebenarnya hanya berputar-putar dengan kecepatan tinggi, jadi kami bertiga (ya, kursinya cukup buat bertiga) seringkali harus mendapat tekanan dari teman lain yang membuat badan sakit semua.

Salah satu kebanggaan kami di Dufan adalah kami merupakan turis yang mandiri. Ketika pengunjung lain bergantian mengabadikan setiap momen, bahkan terkadang bingung mencari pertolongan orang lain, kami tak perlu risau dan gundah gulana. Sebagai turis mandiri, kami menggunakan tripod mini sehingga tak perlu merepotkan orang lain saat ingin mengabadikan gambar bersama.

Image

 

Karena masih dalam suasana berpuasa, kondisi Dufan tidak seramai akhir pekan biasa. Bahkan kami dapat mencoba wahana di dufan lebih dari satu kali. Misalnya saja wahana Tornado dan Kicir-kicir, yang mampu membuat kita mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa saking seramnya. Saat mencoba wahana untuk kedua bahkan ketiga kalinya, kami merasakan bahwa adrenalin yang kami rasakan berkurang jauh daripada waktu pertama mencoba.

Image

Seperti biasa, ketika berkumpul bersama para sahabat waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore yang artinya kami harus segera pergi dari area Dufan.Sangat disayangkan, rencana kami semula untuk menaiki komidi putar sebagai wahana penutup gagal total karena wahana sudah tidak menerima pengujung lagi.akhirnya kami hanya bisa pasrah sambil foto-foto saja. 😦

Berkaca dari pengalaman seru di Dufan bersama sahabat, kami menilai bahwa berlibur adalah salah satu kegiatan penting supaya kondisi mental tetap sehat. Berlibur bersama sahabat pun bukan berarti harus jauh atau mahal. Dengan siapa kitaberlibur jauh lebih penting daripada di mana kita berlibur. 🙂

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s