belajar dari serial TV, bisakah?

Standar

Image

“How I met your mother”, “happy endings”, “friends with benefits”, “raising hope”, “new girl” dan serial TV komedi amerika lainnya tentu tak asing bagi penonton channel Star World. Akhir-akhir ini saya sering sekali menyaksikan serial-serial di atas, sewaktu saya memiliki waktu senggang di kosan. Serial-serial tersebut kebanyakan bercerita tentang persahabatan kaum dewasa muda di Amerika Serikat. Jauh lebih menarik ketimbang sinetron-sinetron yang belakangan ini banyak bertema remaja dan berbau girlband.

Cerita persahabatan memang banyak menjadi inti cerita pada serial TV Amerika. Jika dilihat dari gaya hidup para tokoh yang sesuka hati dan menganut sex bebas, tentu tidak cocok dengan gaya hidup orang Indonesia pada umumnya. Sebut saja hubungan ganjil Ben dan Sara dalam serial “friends with benefits”. Atau si kocak barney dalam serial “how I met your mother” yang sering digambarkan sebagai pria yang hobi bergonta ganti pasangan.

Di balik gambaran gaya hidup yang sembarangan, nyatanya tetap ada nilai positif yang dapat diambil dari setiap episode yang saya saksikan. Apalagi dengan durasi yang hanya 20an menit, kita disuguhkan adegan dan dialog yang tidak membosankan. Berbeda dengan sinetron yang berdurasi panjang dan banyak mengulang-ulang adegan sehingga membuat penonton cerdas cepat merasa bosan. Bukan berarti cerita dalam sinetron tidak mengandung nilai positif, tapi dengan adegan yang bertele-tele dan seringkali tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, sulit untuk menemukan nilai positifnya.

Jadi nilai positif apa yang bisa kita dapatkan dari serial TV yang banyak mengumbar gaya hidup bebas? Seperti yang sudah saya katakan tadi, nilai persahabatan menjadi tema utama pada kebanyakan serial TV Amerika. Memiliki sekelompok sahabat seperti kisah dalam serial-serial tersebut nampak sangat menyenangkan. Kita bisa bercerita, berbagi kisah, pergi bersama dan melakukan segala sesuatu bersama. Pada kenyataannya, memang itu yang kita butuhkan sebagai manusia, sebagai makhluk sosial.

Masih ingat dengan penembakan massal yang dilakukan James Holmes yang meniru Joker saat menonton film “The Dark Night Rises”? Saya tidak tahu betul apa yang menyebabkan James bisa bertindak senekat itu, mengingat dia adalah mahasiswa doktoral di Universitas Colorado. Namun berdasarkan wawancara dengan Reza Indragiri Amriel, seorang psikolog forensik, hal serupa dapat terjadi pada siapa saja yang mengalami frustasi dan tidak memiliki tempat untuk berbagi pikiran. Karena itulah, memiliki sahabat yang siap mendengarkan keluh kesah kita sangatlah penting. Tak perlu memberikan jalan keluar, cukup tangan yang terbuka dan telinga untuk mendengar.

Dalam setiap episode, serial TV pasti memiliki tema berbeda. Dan seperti yang saya katakan tadi, ada nilai positif yang bisa kita serap dalam setiap episode. Seperti serial “friends with benefits” yang baru saja saya saksikan. Premis ceritanya sih tentang Ben dan Sara yang berkencan ganda dengan pasangan lain. Tapi yang ingin saya ceritakan justru side bar nya. Diceritakan bahwa tokoh bernama Riley menjalin hubungan dengan seorang pria yang selalu berkata jujur dalam segala hal, sekalipun itu menyakitkan. Sahabat Riley, Aaron dan Fitz menilai bahwa tidak semua hal perlu diungkapkan secara jujur. Mereka menganggap bahwa terlalu sering mengungkapkan isi hati justru dapat merusak persahabatan.

Kisah yang hampir sama juga terdapat dalam salah satu episode serial “happy endings”. Dikisahkan bahwa Dana, ibu Penny, datang mengunjungi putrinya dengan alasan akan bernyanyi di salah satu pertunjukan hebat, yang ternyata hanya pertunjukan kapal (boat show). Dana memang dikenal sebagai wanita dengan sejuta kata positif, sehingga dia menganggap show dalam kapal sekalipun merupakan hal hebat yang dapat mengantarnya menjadi penyanyi hebat. Sebaliknya, Penny justru merasa bahwa ibunya terlalu memiliki banyak mimpi sehingga akhirnya Dana patah semangat dan mulai memperkatakan hal-hal negatif. Bahkan Dana mengatakan kata-kata negatif pada sahabat-sahabat Penny yang menyebabkan mereka down. Namun, akhirnya Penny sadar bahwa pikiran-pikiran positif lah yang selama ini menjadi nilai lebih ibunya. Seolah menjadi Dana, Penny mulai memperkatakan hal-hal positif yang membuat ibunya kembali bersemangat.

Entah kenapa kedua serial di atas ditayangkan beriringan. Tema besarnya sih hampir sama, yaitu tentang ucapan yang membangun dan tidak membangun. Pada serial “friends with benefit”, pacar Riley yang selalu berkata jujur mengungkapkan semua hal dalam pikirannya dengan cara negatif. Ketika dia merasa bosan dan tidak menyukai sesuatu, dia akan mengatakan langsung di depan orang tanpa teding aling-aling. Sebaliknya, Dana selalu dalam serial “happy endings” selalu berkata positif sekalipun kondisi yang sedang terjadi tidak sehebat yang dialaminya. Bahkan dana berkata hal positif tentang sahabat-sahabt putrinya, yang membuat semangat mereka menyala.

Dalam wawancara saya dengan psikolog Rose Mini atau yang dikenal dengan bunda Romi, manusia memiliki beberapa cara untuk berkomunikasi. Salah satu yang sering terjadi adalah berkomunikasi secara agresif, yaitu mengungkapkan perasaan yang berpotensi menyebabkan sakit hati pada lawan bicara. Selain itu, tak jarang kita melakukan komunikasi pasif-agresif, yaitu seolah kita berkomunikasi dengan manis di hadapan lawan bicara, kemudian ngomel-ngomel di belakang. Salah satu contoh adalah ketika kita mendapat banyak tugas dari atasan, kita akan menerima (seolah) dengan senang hati, tetapi kemudian mengumpat di belakang. (Sounds familiar?)

Komunikasi yang baik adalah secara asertif, yaitu mengungkapkan isi hati dengan cara yang nyaman dan tenang tanpe menyakiti perasaan lawan bicara, sekalipun yang kita ungkapkan adalah hal yang kurang menyenangkan. Seperti yang dilakukan Dana, ia selalu dapat menyampaikan segala sesuatu dari kacamata positif, sehingga lawan bicara pun dapat menangkap nilai positifnya.

Kedua episode dalam serial di atas mengajarkan kita, bahwa apa yang keluar dari mulut kita dapat mempengaruhi keadaan. Kata-kata positif yang membangun kah, atau kata-kata negatif yang dapat merusak keadaan. Seperti ungkapan “mulutmu harimaumu”, kita harus berhati-hati menggunakan lidah kita. Bahkan tak hanya melalui perkataan yang keluar dari mulut kita, saat ini segala perkataan melalui pesan teks, twitter, status facebook dan berbagai media komunikasi dapat memberi pengaruh pada banyak orang. Jadi, hati-hati dengan apa yang keluar dari mulutmu, karena dari satu mulut yang sama, bisa keluar berkat atau kutuk.

Masih banyak nilai positif yang dapat kita temukan dalam setiap tayangan televisi. Tinggal kita sendiri yang menentukan, apakah kita memilih untuk fokus pada gaya hidup yang kurang sesuai dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, atau kita memilih untuk menikmati setiap adegan lucu sambil menyerap nilai positifnya. Karena tidak semua yang berbau barat itu buruk, dan semua yang berbau lokal itu baik untuk kita.

🙂

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s