kenangan MOS tak terlupakan

Standar

Hari ini tanggal 16 Juli 2012, bertepatan dengan awal tahun ajaran baru. Bagi yang baru masuk ke jenjang pendidikan sekolah menengah, pasti ada yang namanya MOS atau Masa Orientasi Sekolah. MOS ini menjadi ajang pengenalan murid-murid baru ke lingkungan sekolah. Mumpung lagi musim MOS, saya pengen cerita tentang masa MOS saya sewaktu SMA sepuluh tahun yang lalu.

Tadi siang udah sempat cerita di twitter sih. Tapi karena keterbatasan karakter dan besarnya kemungkinan hilang ditelan timeline, saya memutuskan untuk cerita di blog aja. Biar lebih afdol. Tapi ceritanya dimulai dari lulus SMP yak, biar agak panjangan dikit :p

Image
———————————————————————————————————————————–

Cerita berawal dari suatu siang pada tahun 2002. Dengan menggunakan seragam putih biru, saya harap-harap cemas melihat pengumuman nilai Ujian Nasional (UN) SLTP. Agak lupa sih waktu itu pengumumannya ditempel di kertas atau dibagikan amplop satu persatu. Pokoknya waktu itu nilai UN saya lumayan bagus: 41,91. Kalo dibagi 6 mata pelajaran, rata-ratanya ga sampe 7 sih. Tapi di masa itu, NUM segitu termasuk lumayan bagus. Apalagi banyak teman-teman saya yang NUM-nya hanya 39.

Karena tergolong lumayan itulah, waktu ada teman dari kelas lain menanyakan NUM saya, dia malah berkata: “woh kowe ki jebule pinter to.” Kalo saya lulusnya baru-baru ini, pasti langsung saya jawab: “MENURUT NGANA??”

Dengan nilai segitu, rasanya mustahil saya bisa masuk ke SMA favorit saya waktu itu, yaitu SMA Negeri 3. Tahun sebelumnya saja, nilai terendah yang masuk SMA 3 adalah 48 koma sekian. Apa kabar dengan NUM saya yang cuma 41 koma? (Tapi waktu itu nilai emang lagi anjlok, yang masuk SMA 3 nilai terendahnya cuma 44 koma).

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pilihan saya jatuh pada SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 4 Yogyakarta. Selain kualitas, jarak dan ketersediaan transportasi umum untuk menuju ke sana patut dipertimbangkan.

Sistem pendaftaran SMA berbeda dengan sistem waktu saya mendaftar SMP. Waktu mendaftar SMP, masih ada sistem rayon yang sangat membantu jika tidak diterima di sekolah pilihan pertama. Di SMA, sistem pendaftarannya hanya sekali. Kalo ga diterima ya sudah, tidak ada kesempatan untuk diterima di SMA Negeri lainnya.

Saya membeli dua formulir pada hari pertama pendaftaran. Formulir SMA 2 dan SMA 4. Semua saya lakukan sendiri dengan naik kendaraan umum, karena saat itu belum punya kendaraan sendiri. Agak repot memang, tapi demi melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ga papa lah..

Saya tidak langsung memasukkan formulir ke sekolah karena harus menyertakan NUM asli. Saya harus memantau dulu bagaimana perkembangan pendaftar di kedua sekolah tersebut. Karena saat itu saya belum akrab dengan internet, saya memantau lewat harian “Kedaulatan Rakyat”, koran terpopuler di Yogyakarta.

Hari terakhir pendaftaran, saya mulai cemas. Sekolah mana yang akan saya pilih? Saya pun memutuskan untuk memasukkan formulir ke SMA 2 saja. Rencananya, saya mau memantau dulu kondisi pendaftaran di Smada. Kalau sekiranya posisi saya tidak aman, saya bisa langsung pindah ke SMA 4 yang lokasinya lumayan jauh kalo naik kendaraan umum.

Sebenarnya ada sedikit rasa bangga dalam diri saya, karena saya bisa memilih sekolah saya sendiri. Saat anak-anak lain diantarkan orang tuanya untuk mendaftarkan sekolah, saya  mondar mandir kesana kemari tanpa didampingi orang tua. Bukan orang tua saya jahat. Saya hanya tidak ingin merepotkan mereka, sekalian saya ingin mencoba mandiri.

Detik-detik menjelang penutupan pendaftaran, saya pun mulai cemas. Waktu menunjukkan pukul 16.30, yang artinya setengah jam lagi meja pendaftaran akan ditutup. Jika berdasarkan pantauan, posisi saya masih aman untuk memasukkan formulir. Tapi saya takut, menjelang penutupan akan banyak orang yang memasukkan formulir dan membuat posisi saya tidak aman.

Tapi kalau dipikir-pikir, setengah jam tidaklah cukup kalau saya ingin geser ke SMA 4 di Jalan Magelang. Akhirnya dengan hati yang pasrah, saya menuju meja pendaftaran dan memberikan map merah yang berisi formulir dan NUM. Sesudah itu, mata saya tak lepas dari layar monitor yang menunjukkan jumlah pendaftar dan nilai yang masuk.

Hingga pendaftaran ditutup pukul 17.00, posisi saya nampaknya masih aman. Tapi itu bukan jaminan kalau saya pasti diterima menjadi bagian dari sekolah mewah (mepet sawah) ini. Dengan langkah gontai akibat kelelahan dan kehausan, saya pun pulang ke rumah.

Pada hari pengumuman, saya dan ibu saya mendatangi gedung Smada. Papan pengumuman yang sudah ditempeli berlembar-lembar kertas nampak berdiri kokoh di tengah halaman sekolah. Dengan tergesa-gesa, saya menghampiri papan pengumuman dan menyusuri satu persatu nama-nama calon siswa yang diterima. Waktu itu, urutan calon siswa yang diterima ditulis berurutan sesuai NUMnya. Dan prasie the Lord, nama saya ada di urutan ke-199. Lumayan lah posisinya, saya urutan ke 199 dari 240 murid. 😀

Setelah melewati masa pembayaran, menjahit baju-baju seragam yang (lagi-lagi) memakan biaya banyak dan mempersiapkan mental, akhirnya tibalah hari pertama masuk sekolah. Bagi anak baru, masuk sekolah bukan pada hari senin, tapi 2 hari sebelumnya pada hari sabtu.

Waktu hari pertama masuk sekolah, sebetulnya saya sudah dibelikan motor baru. Tapi karena masih takut dan belum punya SIM, niat ke sekolah baru pake motor baru biar semangatnya baru pun saya urungkan. Saya kembali menggunakan kendaraan umum ke sekolah. Jaraknya lumayan jauh. Dari rumah saya harus berjalan sekitar 300 meter ke perempatan Pingit. Menunggu bis jalur 15 yang akan membawa saya 1 kilometer ke depan, yang dilanjutkan dengan berjalan kaki (lagi) ke sekolah yang berjarak 300 meter dari pemberhentian bus. *gembrobyos*

Sampai di sekolah, anak-anak baru dikumpulkan di halaman. Satu persatu nama siswa pun disebutkan untuk masuk ke kelas masing-masing. “Aditya Kurnia Pradana.” Guru memanggil murid pertama yang masuk ke kelas 1.1 dengan nomor absen 1. Kemudian nama saya pun dipanggil, yang artinya saya masuk kelas 1.1 dengan nomor urut 2. Lumayan lah ga perlu lama-lama berpanasan di halaman sekolah. Apa kabar yang masuk kelas 1.6 nomor absen 40 ya? Kasian. (Kayanya sih temen SMP saya, Zakia Sekarpratiwi. Salah sendiri namanya pake Z) :p

Setelah seluruh siswa kelas 1.1 masuk kelas, kami pun mulai berkenalan satu sama lain. Ada yang baru kenal, ada yang udah kenal dari SMP, ada juga Panji, teman SD saya yang mukanya bikin pangling.

Tak lama, 4 orang kakak kelas masuk ke kelas kami. 2 siswa dan 2 siswi kelas 2 yang akan menjadi mitra MOS kami. Mitra ini adalah teman kami selama MOS, jadi harus baik hati dan tidak sombong. (Makanya waktu saya kelas 2, saya juga jadi mitra MOS (•ˆ⌣ˆ•). )

Setelah perkenalan dengan cara maju ke depan kelas, kami pun bersiap memilih pengurus kelas. Saya pernah cerita disini, jadi gak usah cerita lagi ya.. Hehehee.. Sesudahnya, kami disuruh mengubah tata letak meja kursi menjadi bentuk U, supaya kami bisa lebih mengenal satu sama lain.

Seperti MOS pada umumnya, kami juga diberi tugas yang aneh-aneh. Disuruh bikin nama punggung, nama meja, nama topi, buku tanda tangan, lengkap dengan kepangan rafia putih-kuning-hitam. Ukurannya pun harus sesuai dengan perintah mitra MOS, karena kalo nggak sesuai bisa dihukum tatib.

Nah, bicara soal tatib, di kelas kami tatibnya galak mampus. Jadi di tengah-tengah penjelasan tentang tugas, tiba-tiba tatib kami yang bernama Burhanuddin Muhammad dan Muvita Rinawati masuk ke kelas dengan kasar, memicingkan mata dengan dagu terangkat sambil melipat tangan. Suasana ceria bersama para mitra mendadak horor. Mereka pun menyebutkan nama, kelas dan nomor absen masing-masing dengan kecepatan ultrasonik, sehingga kesannya lagi kumur-kumur. Parahnya, nama identitas mereka harusnya kami catat untuk keperluan tanda tangan senior. (Yang kalo sekarang dipikir-pikir ternyata ga penting).

Selain tatib, ada juga panitia inti dan senat yang sewaktu-waktu masuk kelas dan memperkenalkan diri. Nah kali panitia inti dan senat ini ramah-ramah, jadi kami gak takut. Malah naksir. #eh

Kembali ke tugas MOS. Kami diberi contoh oleh para mitra tentang ukuran kertas, warna kertas dan sebagainya. Kelas kami terbagi menjadi 2 gugus. Nomor absen 1-20 masuk dalam gugus Amarta dengan kertas asturo biru, sementara 20 lainnya masuk dalam gugus Kunthi dengan kertas asturo merah muda.

Supaya lebih jelas, mitra memberi contoh dengan menggambar di papan tulis. Mitra kami memberi contoh bagaimana membuat nama punggung. Kertas asturo berukuran mirip kertas HVS, hanya lebih besar sedikit dibagi menjadi 3 kotak. Kotak paling atas untuk nama gugus, kotak tengah yang paling besar untuk nomor absen dan kotak paling bawah nama kami masing-masing.

Pada kotak nomor absen, mitra memberi contoh dengan membuat angka 11. Karena kami duduk di kelas 1.1, secara otomatis kami berpikir bahwa itu adalah angka kelas, bukan nomor absen. Dengan pedenya, kami pun menjawab “tidak” saat mitra bertanya: “ada yang belum jelas?”

Pulang sekolah, saya pun langsung berburu perlengkapan perang untuk membuat atribut MOS. Dengan kekuatan bulan dan seluruh anggota keluarga, saya pun mulai menggunting, menempel, mengepang, menulis, menggambar dan sebagainya. Hingga tanpa terasa, waktu menujukkan pukul 10 malam dan saya harus segera mangkal..eh tidur karena besoknya harus ibadah pagi. *anak soleh*

Pulang kebaktian remaja, saya langsung kembali berkutat dengan atribut-atribut yang kini entah dimana keberadaannya. Setelah semua selesai dibuat, tinggal satu yang harus dikerjakan. LAMINATING. Jdaaarr!! Hari minggu fotokopian mana yang buka? Dengan diantarkan om, saya berkeliling Jogja mencari fotokopian.

Saya pun menemukan sebuah tempat fotokopian di daerah Sagan. Di situ ternyata sudah ada teman sekelas saya dari gugus Kunthi. Karena belum saling mengenal, kami hanya saling memandang dan terdiam terpaku. Oh bulan hanya dirimu.. Yang menyaksikan segalanyaa.. *eh malah nyanyi*

Waktu itu sih saya lega, karena si Ivana Krisnawati itu menuliskan angka 11 pada nama punggungnya, yang berarti saya sudah mengerjakan tugas dengan benar.

Keesokan harinya, dengan wajah sumringah saya menuju sekolah. Sesuai aturan, nama punggung dan nama topi sudah harus digunakan mulai gerbang sekolah. Dengan gagah dan penuh percaya diri, saya memasang nama punggung. Saat bertemu dengan teman-teman sekelas (yang semuanya memasang angka 11), saya pun semakin yaqin bahwa pekerjaan saya sudah benar. Walaupun saat melihat nama punggung kelas lain kok angkanya beda-beda.

Kecerian berubah menjadi kekalutan saat tatib masuk ke kelas dan memeriksa atribut kami masing-masing. Betapa terkejutnya mereka, saat melihat semuanya bernomor absen 11. Dengan amukan ala godzila, para tatib pun berteriak-teriak di depan kelas menciutkan nyali kami. Horor bok!

Murid yang salah membuat atribut seharusnya dihukum. Tapi kayanya waktu itu kami gak dihukum, lha wong salahnya seragam. Hahahaa.. Murid bernomor absen 11 yang asli harusnya sih aman. Tapi nyatanya tetep salah, entah ukuran huruf atau kelebihan garis atau apa pun itu, pokoke salah.

Bagi saya dan teman-teman, masa MOS selama 3 hari menjadi ajang mengakrabkan diri satu dengan lainnya. Apalagi dengan adanya insiden angka 11, membuktikan bahwa kami kompak, dalam hal kesalahan sekalipun. :p

Buat dedek-dedek yang lagi menjalani masa MOS, jangan lihat tugas-tugas berat dari kakak kelasnya. Lihat bagaimana tugas-tugas itu membuat keakraban dengan teman-teman baru. Selain itu juga bisa mengakrabkan keluarga, karena sejatinya tugas MOS = tugas keluarga. Hahahaa.. 😀

Image

6 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s