Cheaters never win and winners never cheat

Standar

Adakah di dunia ini seseorang yang gak pernah nyontek seumur hidupnya? Mungkin ada, tapi hanya sebagian kecil dari populasi manusia di Bumi. Mencontek hanya salah satu perbuatan curang yang paling banyak dilakukan orang-orang, apalagi pada masa sekolah.

Waktu SD sih saya gak pernah nyontek. Bahkan setiap ulangan harian atau mengerjakaan PS (pekerjaan sekolah, lawannya PR), setiap siswa akan membangun benteng pertahanan supaya teman sebangku gak bisa nyontek. Walopun gak nyontek, bukan berarti saya tidak melakukan kecurangan lainnya. Waktu kelas 3 SD, saya bekerjasama dengan teman sebangku untuk mengganti jawaban pada saat pencocokan. Yah lumayanlah mendongkrak nilai sedikit-sedikit.

Saya bersekolah di SD Tarakanita, sekolah swasta Katolik yang mengutamakan kedisiplinan, sehingga kecurangan seperti mencontek sangat minim terjadi. Lulus SD saya bersekolah di SMP Negeri. Di sinilah saya mulai mengenal budaya mencontek berjamaah. Mulai dari mengerjakan PR di sekolah (yang tentu saja menjiplak jawaban teman, hingga memberi kode-kode tertentu pada saat ulangan umum.

Jaman SMA, yang namanya dunia contek mencontek semakin menjadi. Apalagi, teman-teman yang otaknya encer gak pernah pelit membagi ilmu (baca: jawaban PR/ulangan) kepada teman lainnya. Untungnya, waktu Ujian Akhir Nasional, saya cukup percaya diri untuk menjawab sendiri tanpa mencontek (soalnya cuma matematika, bhs Indonesia sama bhs Inggris sih). :))

Lalu apa yang saya dapat dari mencontek? Nilai yang lebih baik jika dibandingkan dengan belajar sendiri, tentu saya dapatkan. Tapi saya jadi tidak bisa mengerti bagaimana prosesnya hingga sebuah jawaban dapat terpecahkan. Sebut saja soal-soal fisika atau kimia yang membutuhkan perhitungan khusus. Saya hanya tinggal nyontek sehingga tidak tahu cara untuk menyelesaikannya sendiri. Pantas saja saya tidak lulus UM-UGM, lha wong pas jaman SMA nyontek melulu. *baru nyadar*

Tadi pagi, sambil zapping pada saat nonton TV, saya berhenti pada tayangan animasi Mr Bean di Disney Channel. Saya memang masih suka nonton kartun, maklum lah masih 21 tahun.. *ditimpuk sandal*.

Di tayangan tersebut, diceritakan tentang Mr Bean yang mengikuti kompetisi memelihara tanaman semangka. Semangka terbesar yang dapat dihasilkan peserta, nantinya akan menjadi pemenang. Mr Bean pun merawat tanaman semangkanya dengan baik. Namun saingan Mr Bean, yaitu tetangganya sendiri, berusaha menjatuhkan Mr Bean dengan berbagai cara.

Malam menjelang penjurian, tetangga Mr Bean memasukkan ulat-ulat rakus ke dalam semangka di kebun Mr Bean. Namun tidak disangka, ternyata pagi harinya semangka milik Mr Bean yang ukurannya sangat besar masih dalam kondisi utuh. Si tetangga pun berbuat curang lagi dengan melepas keempat ban mobil Mr Bean dengan harapan ia terlambat datang ke acara penjurian.

Lagi-lagi, Mr Bean berhasil datang ke penjurian dengan membawa semangka raksasanya. Si tetangga yang jahat berbuat curang lagi dengan menukar semangka miliknya yang berukuran lebih kecil pada saat Mr Bean lengah. Pada saat penimbangan, si tetangga menang karena semangkanya (yg sebenarnya milik Mr Bean) paling berat. Namun pada saat penyerahan piala, semangkanya mendadak kempes dan ulat-ulat rakus keluar dari dalam semangka. Mr Bean yang sejak awal menanam semangka dengan jujur pun akhirnya menjadi pemenang.

Tak perlu dijelaskan, pesan moral dari cerita ini tentu saja tentang si curang yang tak akan pernah meraih keberhasilan. Dalam kasus saya yang selalu mencontek pada jaman sekolah pun, dampkanya juga sama. Tapi benarkah bahwa si curang akan selalu gagal?

Di kehidupan nyata, dikenal ungkapan “jujur ajur” yang artinya perbuatan jujur justru dapat menghancurkan diri sendiri. Seseorang yang jujur malah seringkali dikucilkan dan dianggap aneh. Sebaliknya, kecurangan dianggap sebagai hal yang wajar-wajar saja.

Di dunia pendidikan, kecurangan mungkin hanya berkisar pada contek mencontek saja. Tapi justru dari situlah tertanam benih-benih ketidakjujuran yang dapat berdampak pada jiwa pencuri dan korupsi. Namun seperti judul postingan ini, seseorang yang curang tidak akan pernah menjadi pemenang. Mungkin saat ini si curang sedang menikmati indahnya berada di atas awan. Tinggal tunggu waktu saja, si curang akan jatuh dan mempermalukan dirinya sendiri atas kecurangannya.

🙂

“Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” (Amsal 22:8-9).

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s