welcome to the jungle

Standar

Januari 2009, ketika pertama kali saya bekerja di suatu perusahaan, saya diberi suatu ucapan oleh rekan-rekan kerja saya: “welcome to the jungle!” Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa saya diberi ucapan demikian? Bukankah saya baru saja terjun ke dalam dunia kerja yang sesungguhnya? Bukankah itu artinya saya memulai sesuatu yang baru dalam hidup saya untuk bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri? Mengapa saya tidak diberi ucapan: “selamat datang di taman bunga yang indah dengan air sungai jernih yang mengalir”? Atau “selamat berkarya”? Atau mungkin “selamat menempuh hidup baru”?

Ternyata “jungle” adalah dunia kerja. Dunia kerja diibaratkan seperti hutan yang gelap, penuh bahaya dan banyak binatang buas mengancam, jebakan-jebakan betmen bahkan suku terasing yang ternyata kanibal. Oke, mungkin saya lebay menggambarkan hutan. Tapi ternyata memang demikian yang terjadi di dunia kerja. Omelan dari atasan, teman kerja yang malas, klien yang rewel, rekan dari divisi lain yang ga komunikatif, deadline yang mencekik, direktur yang galaknya amit-amit, bahkan OB yang suka ngilang.

Mungkin sewaktu kita masih mengenyam pendidikan, bekerja adalah suatu dunia yang menyenangkan karena kita akan mendapat gaji sendiri dan bebas menentukan kehendak kita sendiri. Namun begitu kita menjalaninya, ternyata tidak semenyenangkan yang kita bayangkan. Bahkan jika bisa memilih, kebanyakan dari kita pasti lebih suka untuk kembali ke masa-masa sekolah.

Kehidupan dunia kerja yang diibaratkan seperti hutan tidak hanya berlaku bagi karyawan atau pekerja kantoran. Orang yang bergerak di bidang bisnis dan profesional pun pasti juga mengalaminya. Klien yang nunggak, vendor yang rese, harga barang yang labil, konsumen yang rewel, jualan lagi sepi, BBM naik, karyawan males, saingan baru lebih inovatif, dan sebaginya dan sebagainya.

Menurut saya, kita bisa masuk hutan lebih dalam jika kita memilih untuk bersungut sungut dalam menghadapi setiap persoalan. Jika memang tidak tahan, kita bisa keluar dari “hutan” yang artinya meninggalkan dunia kerja dan menjadi pengangguran. Atau kita dapat mengubah “hutan” yang kita masuki menjadi “taman bunga yang indah dengan air sungai mengalir yang jernih dan terdapat pelangi di langit yang biru”.

Kunci terpenting adalah kita mencintai pekerjaan kita. Seperti ketika kita menyukai seseorang, kita akan berusaha untuk memberikan yang terbaik. Begitu juga ketika kita mencintai pekerjaan. Kita akan selalu memberikan yang terbaik dari yang kita bisa. Jika saat ini kita tidak cinta dengan pekerjaan kita, mungkin ada yang salah dengan kita atau dengan pekerjaan kita. Tanyakanlah pada diri kita sendiri, pekerjaan seperti apa yang kita inginkan? Apa tujuan kita dalam bekerja? Bidang apa yang paling kita sukai dan kita kuasai?
Dengan menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa mengerti apakah pekerjaan kita saat ini memang sesuai dengan passion kita, ataukah hanya sekedar kegiatan untuk menyambung hidup.

Welcome to the jungle!

😀

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s