Kenapa Jakarta?

Standar

Semua orang Indonesia tentu tahu apa itu Jakarta. Kota besar yang merupakan ibukota negara Indonesia ini merupakan salah satu kota tersibuk di dunia. Bahkan ada pepatah mengatakan “Jakarta tak pernah mati”. Pepatah tersebut memang cocok untuk keadaan kota Jakarta yang tidak pernah sepi, bahkan di pagi buta sekalipun. Maka tak heran jika di Jakarta banyak terdapat mini market dan restoran cepat saji yang buka 24 jam.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 2001. Waktu itu saya ke Jakarta dalam rangka studi wisata yang diadakan sekolah saya. Sudah menjadi tradisi di sekolah saya bahwa siswa kelas 3 SMP akan berstudi wisata ke luar kota. Pada saat itu kami selaku siswa diberi 3 macam pilihan untuk kota yang akan dikunjungi, yaitu Jakarta, Bali atau Jakarta-Bogor-Bandung. Setelah diadakan jajak pendapat, diputuskan bahwa kami akan berstudi wisata ke Jakarta-Bogor-Bandung.

Sebagai remaja berusia 14 tahun, kemegahan kota Jakarta begitu menakjubkan. Saya melihat begitu banyak gedung pencakar langit. Begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Saya juga melihat secara langsung bangunan bernama monas yang merupakan simbol kota Jakarta. Saya dan rombongan mengunjungi beberapa tempat wisata dan sejarah, seperti Dufan, Lubang Buaya, Monas, Keong Mas, Mangga Dua, PP Iptek dan sebagainya.

Selain kekaguman saya tentang kemegahan Jakarta, pada saat itu saya juga prihatin pada polusi dan kemacetan di kota ini. Sebagai rombongan studi wisata, tentu saya pergi dari tempat yang satu ketempat yang lain menggunakan bus besar. Saya merasakan lamanya berada dalam perjalanan karena macet dimana-mana. Saya juga melihat dari kejauhan, gedung-gedung pencakar langit seperti tertutup kabut yang ternyata adalah polusi kendaraan bermotor.

Ketika saya dan rombongan meninggalkan Jakarta, saya bertanya-tanya dalam hati apakah suatu hari nanti saya dapat kembali ke kota ini. Kini sudah 10 tahun berlalu sejak saat itu dan sudah 2 tahun lebih saya tinggal di Jakarta. 2 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berkenalan dengan kota Jakarta. Kota yang nampak indah dan megah jika dilihat dari kejauhan. Kota yang menjanjikan impian dan kesuksesan bagi siapa saja yang datang untuk mengadu nasib.

2 tahun tinggal di Jakarta, saya melihat beberapa hal menyebalkan dari kota ini. Saya tidak suka kendaraan umum seperti Metro Mini, Kopaja, angkot dan bajaj yang berasap tebal dan berjalan seenak wudelnya sendiri. Saya tidak suka kemacetan yang merusak mood dan menyebabkan saya terlambat. Saya tidak suka genangan air yang menyebabkan kendaraan hampir mogok. Saya yakin hal yang saya alami tersebut pasti dialami juga oleh penduduk Jakarta lainnya.

Jika begitu banyak hal menyebalkan di Jakarta, lantas mengapa saya masih mau tinggal di sini? Jakarta bukan hanya sekedar Ibukota negara. Jakarta adalah pusat dari berbagai hal di Indonesia. Pusat pemerintahan, pusat perekonomian, pusat bisnis, pusat hiburan, pusat informasi dan pusat-pusat lainnya. Passion saya adalah bekerja di bidang jurnalistik televisi dan saya memang ingin bekerja di stasiun televisi nasional. Nah, karena semua stasiun TV nasional ada di Jakarta, maka mau tidak mau saya berusaha untuk mendapatkan apa yang saya inginkan di kota ini.

Tidak salah jika banyak orang ingin tinggal dan bekerja di Jakarta. Yang salah adalah orang-orang yang datang tanpa tujuan, tanpa pendidikan dan tanpa ketrampilan. Jika apa yang kita inginkan hanya ada di Jakarta, maka tidak ada salahnya jika kita mencoba dan berusaha mendapatkannya. Namun jika apa yang kita impikan dan cita-citakan masih terbuka di tempat lain, maka sebaiknya kita mencoba juga di tempat itu.

Saat ini saya belum menjadi “orang sukses” di Jakarta. Namun saya yakin, dengan kerja keras dan doa, suatu hari nanti saya akan menjadi orang sukses di kota ini. Menjadi seorang jurnalis televisi yang baik dan berprestasi. Saya yakin bahwa kita dapat menjadi orang sukses di bidang apapun yang kita geluti jika kita selalu yakin dan percaya.

🙂

3 responses »

  1. Kalau selama ini melihat Jakarta adalah kota sibuk dengan “sumber2 kejengkelan” yang rasanya bikin kaki pindah ke kepala dan kepala pindah ke kaki, coba deh sesekali “melihat Jakarta dari sisi yang lain” How? Bacalah sedikit sejarah ttg berdirinya kota Jakarta, pergi menelusuri wisata-wisata sejarah di Jakarta dengan pikiran yang terbuka (percuma juga kalau mau menikmati Jakarta tapi di awal sudah bersungut-sungut). Saya sudah membuktikannya. Kalau dua tahun lalu saya adalah orang yang hobi bilang “Kenapa Jakarta?” sekarang saya paling senang bilang, “I love you, Jakarta!” dari sana, perubahan sekecil apapun akan terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s