leadership

Standar

“Tuhan, kami mau makan. Berkatilah makanan ini. Amin.”

Doa makan yang sangat sederhana tersebut meluncur dari bibir seorang gadis kecil berusia 4 tahun. Doa yang begitu singkat, namun membuat saya terhenyak. Bukan karena doanya, namun karena keberainiannya mengajukan diri untuk memimpin doa.

Saat itu saya sedang dijamu makan oleh satu keluarga pendeta. Berbagai macam menu seafood sudah terhidang di hadapan kami. Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang, apalagi umat Kristen seperti saya untuk berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Dan tiba-tiba seorang gadis kecil berkata dengan ceria, “Aku ya yang berdoa..” Saat itu saya begitu kagum, karena sebagai orang dewasa saya sendiri tidak memiliki keberanian untuk menawarkan diri. Gadis kecil tersebut memang seorang putri sekaligus cucu pendeta. Namun saya yakin bukan karena itu saja dia bersedia mengajukan diri. Saya yakin karena jiwa kepemimpinan dalam dirinya lah yang membuatnya percaya diri.

Saya rasa kepercayaan diri gadis cilik tersebut tumbuh karena terus dipupuk dan disiram oleh kedua orang tuanya. Namun bagaimana bagi kita yang sudah dewasa? Apakah kita bisa memiliki jiwa pemimpin? Saya sendiri masih terus belajar untuk bisa menjadi pemimpin. Tidak usah jauh-jauh dan berkeinginan menjadi pemimpin yang memiliki banyak anak buah. Mulai saja dari diri kita sendiri. Memimpin diri kita sendiri.

Seorang pemimpin yang baik tidak akan menjerumuskan dan merusak anak buahnya. Sebisa mungkin ia akan membimbing anak buahnya agar melakukan tindakan yang benar sehingga dapat mencapai tujuan. Demikian juga dalam memimpin diri sendiri. Kita mengendalikan diri kita untuk melakukan hal-hal yang benar untuk mencapai tujuan hidup kita.

Misalnya saja dalam hal menjaga tubuh tetap sehat. Sebagai pemimpin yang baik, kita harus mengerti bagaimana memperlakukan tubuh kita agar tetap sehat dan kuat. Tidak begadang, tidak merokok dan minum minuman keras, rajin berolahraga, istirahat cukup dan makan makanan sehat dan teratur. Dalam hal menjaga tubuh sehat saja sudah ada banyak godaan.

Demikian juga dalam hal mencapai tujuan hidup, menggapai cita-cita, kehidupan rohani dan mencari jodoh. Kita harus mengerti apa tujuan kita, dan mencari tahu bagaimana kita dapat mewujudkannya. Selanjutnya kita perlu memimpin diri kita dan menghindari setiap godaan yang ada.

Ketika kita sudah dapat memimpin diri kita sendiri dan orang lain melihatnya, maka pasti kita akan diberi kepercayaan untuk memimpin orang lain. Entah itu dalam hal kepanitiaan, susunan pengurus kelas, kegiatan perkuliahan maupun dalam pekerjaan. Dan sebagai pemimpin, tentu kita dapat menjadi contoh yang baik dan mengarahkan bawahan kita untuk bertindak benar sesuai tujuan.

Jiwa kepemimpinan tidak dapat dinilai oleh diri kita sendiri. Orang lain lah yang melihat dan menilai seberapa pantaskah kita menjadi pemimpin dari tindakan kita. Karena itu kita perlu belajar untuk mulai menjadi pemimpin. Karena cepat atau lambat, nantinya kita akan menjadi pemimpin bagi orang lain.

“TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,” (Ulangan 28:13).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s