nobody’s great at everything

Standar

“Wis gedhe kok senenge nonton sepongbob”, begitulah komentar ibu saya dan orang-orang dewasa lainnya jika saya menonton serial kartun Spongebob Squarepants. Ya, walaupun usia saya sudah bukan anak-anak lagi (tapi muka masih imut kaya anak-anak), saya masih suka menonton kartun dan power rangers. Bukan hal yang aneh jika orang dewasa menonton kartun, tapi biasanya sih kartun yang masih ada mikirnya atau berbau dewasa kaya Detective Conan, Avatar, One Piece ataupun Crayon Shinchan (sebetulnya Shinchan tuh bukan buat anak-anak ya). Tapi kartun yang saya suka malah kartun yang “anak-anak banget” kaya Spongebob Squarepants, Fairly Odd Parents, Jimmy Neutron dan Tom and Jerry.

spongebob squarepants

Walaupun kartun tersebut untuk anak-anak, namun jalan cerita dan pesan moral yang terkandung dapat diterapkan untuk kehidupan orang dewasa. Salah satu episode serial Spongebob Squarepants berjudul Pressure misalnya, mengandung pesan moral yang sangat cocok diterapkan untuk orang dewasa. Episode tersebut bercerita tentang persaingan makhluk laut (sea creatures) yang diwakili oleh Spongebob Squarepants, Patrick Starfish, Squidword Tentacles dan Eugene Crab dengan makhluk darat (land creatures) yang diwakili oleh Sandy Cheeks, tupai cerdas yang hidup di dasar laut.

Sebenarnya cerita ini berawal dari persaingan Spongebob dan Sandy saja. Namun di Krusty Krab, persaingan malah melebar antara makhluk laut dan makhluk darat. Spongebob dan kawan-kawan beranggapan bahwa makhluk lautlah yang terbaik. Mereka dapat bernapas dalam air dan dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dikerjakan makhluk darat. Karena tidak mau kalah, Sandy pun melepas helm dan baju pelindungnya. Karena Sandy memang makhluk darat, dia tidak dapat bertahan lama di dalam air tanpa alat bantu. Ia pun segera mengambil stoples acar sebagai pengganti helm. Masih tidak mau kalah, Sandy pun menantang keempat makhluk laut tersebut untuk naik ke darat dan bertahan 1 menit saja. Awalnya Spongebob dan kawan-kawan menanggapi tantangan tersebut dengan bersemangat. Namun sampai di pinggir pantai, mereka pun ragu dan saling menunjuk, siapakah yang akan naik pertama kali. Akhirnya mereka pun naik ke darat dan bertemu dengan sekawanan burung camar kelaparan yang malah mengejar mereka untuk dijadikan santapan. Sandy yang sudah menunggu di dalam air selama 1 menit pun mengaku kalah dan naik ke darat untuk menyusul mereka. Mendapati teman-taman lautnya diserang burung camar, Sandy yang pandai silat pun langsung mengejar mereka. Sekembalinya ke dalam laut, mereka semua menyadari bahwa masing-masing mempunyai kelebihan, tapi tidak ada seorangpun yang hebat dalam segala hal.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita dituntut untuk hebat dalam segala hal. Misalnya saja, orang tua akan selalu menuntut anaknya untuk hebat dalam semua mata pelajaran dan hebat dalam setiap les yang diikuti. Padahal setiap anak memiliki bakat dan minat masing-masing. Anak yang pintar di pelajaran matematika dan fisika belum tentu hebat dalam pelajaran bahasa. Atau anak yang berbakat di bidang seni belum tentu pintar di bidang akuntansi. Orang tua selayaknya membimbing dan mendorong anak untuk mendalami bidang yang diminati agar bisa fokus dan menjadi hebat di masa depan.

Kalau dalam bidang pekerjaan, seringkali malah kita sendiri yang memaksakan diri untuk menjadi hebat dalam hal lain. Misalnya seseorang yang berjiwa seni memaksakan diri untuk bekerja di bidang marketing. Bisa saja dia sukses dengan dunia marketingnya. Namun apakah dia bahagia dengan apa yang dijalaninya? Ataukah ia malah merasa sesak seperti Sandy si tupai yang memaksakan diri untuk melepas helm dan baju pelindungnya ketika di dalam air?

Ketika kita sudah dewasa, kita sendiri lah yang harusnya tau kemampuan diri kita. Kita sendiri lah yang mengerti apa yang membuat kita bahagia. Orang-orang memang selalu beranggapan bahwa dalam memilih pekerjaan janganlah terlalu idealis. Pilih saja pekerjaan yang menghasilkan uang banyak tanpa peduli apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan bidang atau passion kita. Namun saya pikir, kita menjalani kehidupan kita masing-masing dan tidak ada salahnya jika kita memilih jalan hidup sesuai hasrat kita sekalipun harus menjalani semuanya dari nol. Toh ketika kita merasa sesak karena bekerja di bidang yang “terpaksa” kita jalani, mereka tidak membantu kita. Saya menjalani hidup saya sendiri baik susah maupun senang. Sebagai orang dewasa (secara pemikiran, bukan sekedar usia) kita bertanggung jawab terhadap diri kita dan masa depan kita sendiri. Jika memang bakatmu adalah bisnis dan malah bekerja atau kuliah di bidang kedokteran, bukankah ga nyambung? Jika memang kita bahagia menjadi seorang seniman meskipun bayarannya kecil, saya rasa itu jauh lebih berharga daripada orang yang “terpakasa”. Dan saya juga percaya jika kita menekuni bidang yang kita suka dan terus mengembangkan diri, suatu hari nanti kita akan memetik buah yang manis berupa kesuksesan, baik kesuksesan dalam bidang finansial maupun kepuasan diri.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film Thailand berjudul “The Little Comedian”. Film ini menceritakan tentang Tok, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang ingin menjadi pelawak HANYA karena ayah dan kakeknya adalah pelawak juga. Namun sekeras-kerasnyaia mencoba untuk melucu, lawakannya tetap garing dan tidak ada yang tertawa. Ia tambah sakit hati ketika ayahnya tidak mau lagi mengajaknya naik panggung untuk melawak, tapi justru mengajak adik perempuannya yang masih kecil.

Ternyata Tok ingin menjadi pelawak bukan karena keinginannya sendiri. Ia hanya takut jika ia tidak  bisa melawak, maka ayahnya tidak akan menyayanginya lagi. Namun ayah Tok memang bijaksana. Meskipun ia sering menggoda Tok karena lawakannya yang tidak lucu, namun ia berkata bahwa ia mendukung Tok menjadi apapun yang ia inginkan. Ayahnya akan tetap menyayanginya meskipun ia tidak mewarisi bakat lucu dari ayah dan kakeknya.

Sama seperti Tok, seringkali kita memilih jalan hidup kita hanya karena ingin membuat orang lain bahagia. Kita takut jika kita tidak menjadi seperti yang orang lain inginkan, maka kita tidak akan dianggap ada. Karena itu bertanyalah pada diri kita sendiri. Apakah memang kita bahagia dengan pilihan kita? Ataukah saat ini kita seperti Spongebob dan kawan-kawan yang memaksakan diri naik ke darat tapi malah dikejar-kejar burung camar? Dalam episode tersebut, mereka menyadari bahwa tidak ada seseorang yang hebat dalam segala hal. Jadi mari kita memaksimalkan bakat yang ada pada diri kita dan jangan memaksakan diri untuk melakukan hal yang memang bukan bidang kita.

Keadaan sekarang mungkin masih jauh dari mimpi dan keinginan kita. Namun dengan keyakinan, terus berpegang pada mimpi kita dan terus berusaha, saya percaya suatu hari nanti kita akan sukses dan bahagia! Keputusan untuk masa depan kita ada di tangan kita sendiri. Jika kita memang tidak bahagia dengan keadaan kita sekarang, ada baiknya jika kita “membakar jembatan” dan mulai menggapai ke langit dimana mimpi kita tergantung.

🙂

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s