kebetulan bertemu

Standar

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengobrol dengan sahabat saya. Karena sudah lama tidak bertemu dan biasanya hanya sekedar chatting, maka kami pun mengobrol ngalor ngidul tanpa arah. Mulai dari mengobrol soal rencana liburan, gosip terbaru dari teman, menu sarapan hingga ujung-ujungnya mengobrol tentang sinetron. Kami bukanlah penggemar sinetron. Paling banter kami cuma nonton sekilas ataupun hanya mendengar dialognya saja. Kami membahas salah satu judul sinetron yang sedang ngetrend di kalangan ibu-ibu dan pembantu rumah tangga, yaitu: Putri Yang Ditukar.

Sinetron ini bercerita tentang dua orang gadis yang sejak bayi ditukarkan oleh seseorang karena orang tua mereka bermusuhan. Saya tidak akan membahas jalan cerita sinetron ini atau pun berkomentar tentang ide ceritanya. Waktu itu saya dan teman membahas suatu fenomena yang ajaib, fantastis bombastis dan spektakuler *lebay*. Di sinetron ini dan sinetron lainnya, banyak sekali atau bahkan semuanya merupakan adegan “kebetulan bertemu”. misalnya saja ketika salah seorang tokoh sedang di rumah sakit, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas ada tokoh lain yang juga sedang di rumah sakit. Atau contoh lain ketika sang anak sedang berjualna kue di jalan dan jatuh tersandung, tiba-tiba sang pacar datang entah darimana untuk menolongnya. Contoh lain yang lebih ekstrim ketika sang ayah kandung disandera di gudang yang berada di padang rumput yang luas dan antah berantah, sang putri bisa-bisanya pergi ke tempat yang sama. Pokoknya hampir semua adegan di sinetron ini “kebetulan bertemu”. Teman saya pun sempat memposting ke blog pribadinya http://cikrin.blogdetik.com/2010/12/28/tidak-sengaja-ketemu/

Dalam kehidupan nyata, saya sendiri sangat jarang mengalami yang namanya “kebetulan bertemu”. Sekalipun saya sedang jalan-jalan dan berada di lokasi yang sama dengan teman saya, seringkali kami malah tidak bertemu. Justru saat melihat akun facebook atau twitter-nya, saya baru tahu kalau tadi kita sempat berada di lokasi yang sama.

Salah satu “kebetulan bertemu” yang menurut saya paling menarik adalah ketika saya sedang ada pekerjaan di Balikpapan tepatnya di mall E-Walk. Untuk memperlancar pekerjaan di sana, saya banyak berhubungan dengan salah satu staf bernama Lisa yang ternyata usianya hanya setahun di atas saya (padahal tadinya manggil Bu Lisa). Jadi ceritanya mall E-Walk ini sedang memperingati hari jadi yang pertama. Untuk memeriahkan acara, mereka mengundang band-band dari Jakarta yaitu The Virgin dan Radja. Mungkin sebagai ajang promosi, mereka juga mengundang tim Insert Trans TV untuk meliput kegiatan The Virgin dan Radja selama di Balikpapan. Nah kru Trans TV yang diutus untuk meliput adalah seorang reporter (lupa namanya) dan seorang camera person bernama Evan.

Acara puncak ulang tahun E-Walk diadakan sekitar pukul 7 malam dan selesai pukul 10.30. Setelah acara selesai saya beristirahat sejenak di kamar hotel yang bersebelahan dengan mall dan kemudian keluar mencari makan malam. Tadinya saya malas keluar karena sudah capek sehingga memutuskan untuk delivery saja. Namun ternyata di Balikpapan belum ada franchise makanan cepat saji yang buka 24 jam. jadi daripada saya kelaparan, saya pun ikut keluar saja. Saya makan malam bersama beberapa staf E-Walk, personil dan tim Radja serta kru Trans TV di salah satu warung kaki lima dengan menu ayam penyet, pecel lele dan lain lain.

Yang namanya makan-makan ga mungkin kita diem-dieman aja. Kami pun mengobrol tentang asal usul kami masing-masing. Dari obrolan itu saya menemukan hal yang sangat menarik. Si Evan ternyata berasal dari kota Semarang. Si Lisa berasal dari Pekanbaru namun semasa kecil pernah tinggal di Semarang juga. Semakin lama mengobrol, sepertinya ada benang merah yang menghubungkan Evan dan Lisa di masa lalu (ceile bahasanyee..). Evan bercerita bahwa dia tinggal di Semarang (entah atas entah bawah, saya kurang mengerti), dulu sekolah di TK ini, menumpang nonton TV di tetangga itu dan lain-lain. Ternyata Lisa pun pernah tinggal tak jauh dari Evan dan bersekolah dan menumpang nonton TV di tempat yang sama. Karena mereka seumuran, saya pun nyeletuk: “Jangan jangan kalian temen TK”. Dan sepertinya memang benar bahwa mereka dulunya berteman dan bertetangga namun saling melupakan. Terpisah laut Jawa yang begitu luas namun takdir mempertemukan mereka kembali sebagai manusia dewasa (lebay ah :p).

Menurut saya kisah Evan dan Lisa tadi sangat menarik karena saya pribadi jarang menjumpai “kebetulan bertemu” yang begitu ekstrim. Teman masa kecil yang terpisah jauh namun bertemu kembali secara kebetulan tanpa rekayasa. Tidak seperti sinetron yang kita tonton dimana setiap hari kebetulan bertemu.

Sekian.

3 responses »

  1. Ka andre jalan sinetron mah emang kyk gitu, yg dibenak kita atau dalam kehidupan kita g mungkin kita lakukan tapi didalam sinetron bisa2 aja, tapi itu sinetron lebay namanya yg tidak mengandung unsur dan membodohi masyarakat sekali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s